SAFEERA
PROLOG
Ia termangu. Aura di wajahnya mendadak sendu,
sepertinya awan hitam tengah mengelilinginya beberapa menit yang lalu. Ia
mendadak diam, seperti ada sesuatu yang membebani pikirannya. Aneh, padahal
beberapa jam sebelumnya ia ceria seperti biasa, memamerkan gigi dengan cengiran
khasnya.
Tapi, coba lihat sekarang. Bersuara pun tidak, hanya
terdiam dengan raut wajah masam. Jari-jemarinya bolak-balik memainkan layar
ponsel pintarnya. Tidak, ia tidak sedang menerima pesan atau pun mengirimkan
pesan. Ia hanya membuka galeri, scroll..
scroll.., lalu menutupnya. Membuka
percakapan-percakapan di aplikasi chatting,
scroll.. scroll.., lalu menutupnya. Apakah ia sedang bosan? Sepertinya tidak.
Mungkin mata dan jemarinya terpaku pada layar, tapi pikiran dan perasaannya
melayang kesana-kemari, singgah di sana-sini, berdebat dengan dirinya sendiri.
Ini bukan kali pertama ia seperti itu. Sebelumnya,
ia pernah bahagia, sangat bahagia. Ia bercerita dengan excited, suara yang lantang, cengiran yang lebar, gesture tubuh yang bergerak kian-kemari,
ia sungguh bahagia. Perilakunya bisa saja terlihat biasa dihadapan orang-orang
yang sudah lama mengenalnya. Tapi, untuk orang yang baru saja mengenalnya, ia
bisa dianggap..aneh. Beberapa saat setelah itu, seketika bahagianya lenyap,
menguap. Entah apa alasannya, ia berubah menjadi orang yang super sensitif. Ia
mudah tersinggung dan temperamental. Ia dan emosinya, bertabrakan dan sulit
dikendalikan, bahkan oleh dirinya sendiri.
Sepertinya, ia pun tahu masalah yang tengah
dihadapinya. Hanya saja ia menutup diri untuk bicara. Ia tetap menjalani hidup
selayaknya orang normal lainnya. Ia pun belum yakin sepenuhnya, hanya saja ia
menyadari ada sesuatu hal yang salah dalam dirinya.
Nah, sekarang ia malah menjatuhkan bulir-bulir air
matanya. Semakin deras mengalir di kedua pipinya. Oh tidak, ia sesenggukan
dengan kedua bahu yang berguncang hebat. Ia menangis tersedu-sedu. Tanpa suara.
Sungguh malang nasibmu, Safeera.
---to be continue--
Komentar
Posting Komentar