Hidup Tak Selebar Ujung Kuku Jari.
Jujur, saya merasa masih berdiri di tengah-tengah
perbatasan. Berdiam diri di zona aman, takut-takut melirik manakah yang
seharusnya saya lawan dan mana yang seharusnya saya jadikan kawan. Seseorang
pernah berkata kepada saya. “Kalau menulis berita itu nggak bisa lo ambil dari
sudut pandang tengah-tengah, itu banci namanya. Lo musti pilih, lo mau memihak
rakyat atau memihak pejabat/pemerintah.”
Itu hanya sekadar contoh dan sentilan kenapa saya
tidak boleh terus-terusan berlindung di zona aman. Saya harus keluar dan
menyuarakan kebenaran. Setidaknya opini yang menurut saya benar dan tidak ada
salahnya jika saya utarakan. Toh, benar atau salah itu berbeda bagi setiap
orang, tergantung dari sudut pandang dan seberapa dalam pemahaman masing-masing
orang terhadap suatu hal.
Kita hidup di negara demokrasi kan? Setiap orang
berhak berpendapat, tapi setiap orang berhak juga untuk tidak suka atau tidak
setuju dengan pendapat orang lain. Dan, saya akan mencoba menyuarakan apa yang
selama ini saya pikirkan. Ini menyangkut agama. Ya, pembahasan terkait agama
memang menjadi hal yang paling sensitif dari waktu ke waktu. Tapi saya hanya
menyuarakan dengungan-dengungan pertanyaan yang sudah terlalu lama mengendap dalam
kepala saya.
Saya hidup dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang
agamis. Saya lahir dan besar di pinggiran kota Jakarta, yaitu kota Depok. Sejak
TK hingga kuliah, saya hidup dan beraktivitas di Depok. Hanya satu tahun saya
sempat mencicipi tinggal di pinggiran kota Bogor. Singkat kata, saya
benar-benar hidup dalam zona aman tanpa tahu seperti apa dunia sesungguhnya. Sampai
suatu masa, saya mengenal sedikit kehidupan di luar kota Depok. Hanya sebatas membaca
perilaku orang-orang dan lingkungannya.
Saya terus belajar, mengamati, baik secara langsung
maupun lewat media sosial, televisi, atau media lainnya. Saya mempelajari, saya mengalami,
dan perlahan mata saya terbuka lebar. Ternyata kehidupan yang selama ini saya
jalani hanya setitik ujung kuku jari. Kecil sekali. Payah, saya baru menyadari
ketika usia saya bukan remaja lagi. Tapi saya bersyukur, lebih baik telat
daripada tidak sama sekali.
Pertanyaan yang selalu menempel di kepala saya
adalah, kenapa ya ada orang di luar sana yang benci terhadap islam, memojokkan
islam, meremehkan ajaran-ajaran islam, lebih mendukung dan membela budaya luar,
padahal orang tersebut beragama islam? Saya gagal paham. Misal sebagai contoh,
mereka protes kenapa sih di Indonesia, Miss
Grand International yang udah berprestasi gitu masih aja dihujat? Gara-gara pakai bikini? Yaiyalah kontes
kecantikan gitu pakai bikini, masa pakai sarung? Atau, duh lu jangan pakai kerudung panjang-panjang deh ntar dikira teroris. Kok
lu pakai rok terus sih? Nggak ribet? Eh, lu aliran ini ya? Pengikut ini ya?
Dan, masih banyak lagi serentetan pertanyaan yang
menurut saya agak nggak masuk akal dan menyebalkan. Inilah kenapa saya kerap
kali diam dan berlindung di zona aman. Saya lebih banyak diam, tidak menolak
tidak juga mengiyakan. Hati saya bergejolak, bimbang juga berontak tidak
terima. Dalam hati saya mendebat, tapi mulut saya urung berbicara. Yang saya
pikirkan, bagaimana bisa orang-orang yang benci terhadap islam, menempelkan
stigma buruk terhadap islam, berkoar-koar bangga membela pemimpin yang justru
melecehkan islam, ialah mereka yang justru tertulis islam di KTP-nya.
Saya tahu, saya paham, setiap orang punya pilihan
dan jalan hidupnya masing-masing. Sekali lagi, saya hanya menyuarakan apa yang
selama ini saya pertanyakan. Saya cuma heran, mereka benar-benar seperti anti
terhadap islam, tapi ketika hari raya islam, lebaran, mereka turut merayakan. Saya
cuma merasa lucu aja melihatnya. Dan satu hal lagi yang saya pertanyakan, selama
di dunia, mereka begitu tidak sukanya terhadap aturan-aturan islam, mencibir,
meremehkan, membuat stigma buruk, tapi ketika ajal menjemput nanti, proses pemakaman
apakah yang akan mereka jalani? Apakah tidak malu, seseorang yang beragama islam
justru antipati terhadap islam? Tapi masih tetap tebal muka merayakan hari raya
besar islam. Tidak terpikirkah proses pemakaman seperti apa yang akan mereka jalani
setelah waktunya habis di dunia?
Saya memang bukan orang yang sempurna. Saya pun
banyak ‘cacat’ di sana-sini. Saya hanya berusaha meninggalkan zona nyaman
dengan berani mengeluarkan dengungan dalam kepala yang selama ini saya acuhkan.
Tapi, melihat kondisi dunia yang semakin membuat saya gerah, mau tidak mau harus
saya utarakan. Intinya, saya hanya heran dan gagal paham dengan orang-orang
seperti itu. Saya tidak menyindir sekelompok orang atau golongan tertentu,
karena orang-orang seperti ini banyak sekali di luar sana. So, no hard feeling yes. Biarlah pertanyaan ini tetap jadi pertanyaan. Setidaknya,
semoga bisa dijadikan renungan. Bukan justru menimbulkan perdebatan. Sekali lagi,
no hard feeling yes. J
Depok,
21:16
Yasmin
Shafiyyah

Komentar
Posting Komentar