Penulis Bercerita


CURAHAN HATI 

MAHASISWI TINGKAT AKHIR

 

Oleh: Yasmin Shafiyyah



Siang tadi, di tengah teriknya matahari dan hiruk-pikuk manusia berlalu lalang dengan tujuan yang berbeda satu sama lain, aku menerobos sibuknya kota Jakarta seorang diri. Sesampainya di stasiun tujuan, Tanah Abang, disambut dengan pemandangan puluhan tukang ojeg yang dengan semangat menawarkan jasanya kepada para penumpang.

"Bos, ayo bos?"

"Bu mau kemana bu? Ayo, Bu."

"Ayo, Mba mau kemana?"

Di sepanjang jalan trotoar berdiri banyak sekali tukang ojeg dengan tangannya mengacungkan jari telunjuk sambil mengajak siapapun yang lewat untuk memakai jasa ojegnya. Sejujurnya, hal itu sedikit membuatku risih, takut dan sungkan. Biasanya, jika aku memang diharuskan naik ojeg, maka akan kupilih tukang ojeg yang paling ujung dan jauh dari keramaian.

Namun, tadi aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju kantor SWA Media Group yang terletak di Jalan Taman Tanah Abang III No. 23. Samar-samar aku mengingat jalan dengan ditemani teriknya matahari serta debu-debu dan juga asap knalpot kendaraan bermotor. Sekali dua kali pengendara bermotor yang ugal-ugalan mengganggu jalanku.

Sekitar lima belas menit lebih, aku sampai di kantor dan menemui kepala HRD SWA untuk menyerahkan surat keterangan magang dari kampus. Ya, akhirnya aku resmi diterima magang di Perusahaan media bidang Ekonomi dan Bisnis, SWA Media Group, setelah menyelesaikan penugasan dan melalui tiga kali interview. Alhamdulillah.

Besok, 28 Oktober 2015, adalah hari pertama aku magang di perusahaan tersebut. Sebelum esok tiba, aku akan berbagi pengalaman beberapa bulan ke belakang sebelum akhirnya aku resmi diterima.



***

Magang Kecepetan

Praktik Industri (PI) atau biasa disebut magang adalah hal wajib yang harus dikerjakan oleh mahasiswa tingkat akhir. Perusahaan tempat PI harus dicari oleh mahasiswa itu sendiri, mahasiswa harus observasi mengenai perusahaan mana saja yang sekiranya dapat dijadikan tempat PI. Setelah itu, mendatanginya dengan membawa CV dan portfolio. Mungkin kelihatannya simpel dan mudah. Tapi, tunggu sampai digantungin perusahaan, menunggu berminggu-minggu tanpa jawaban dengan perasaan ketar-ketir dan cemas, apalagi jika jadual magang sudah semakin dekat.

 Jauh sebelum fase itu.

Aku dan satu temanku, sebut saja Robert, mendapatkan tawaran dari senior untuk magang di sebuah media besar dan ternama, Tempo Inti Media Tbk. Tawaran itu aku dapatkan saat masih bulan Ramadhan dan mendekati liburan akhir semester. Kami langsung mengirim CV dan beberapa contoh tulisan melalui email. Setelah lebaran idul fitri, kami dipanggil ke kantor Tempo untuk interview.

Saat itu, kami ditawarkan magang pada hari itu juga. Namun setelah berdiskusi, akhirnya kami mulai magang keesokannya, 25 Juli 2015 hingga 25 Agustus 2015, lalu jeda dua bulan dan diteruskan kembali pada bulan November - Desember 2015.



Pada saat itu, magang di perusahaan dengan nama besar Tempo adalah sebuah kebanggaan karena dapat belajar banyak dari orang-orang di dalamnya. Selama satu bulan itu, kami belajar disiplin dan akrab dengan deadline. Jika tugas harus diselesaikan hari itu juga ya harus selesai. Mau ngerjain di kantor atau rumah tidak jadi masalah, yang penting selesai. Seringkali aku menyelesaikan tugas hingga tengah malam bahkan lewat. Dari sana aku belajar bekerja di bawah tekanan, menjadikan mental semakin kuat dan tidak leyeh-leyeh.

Ada satu moment yang sangat menguntungkan adalah ketika aku ditugaskan untuk meliput Gerai Produk IPB, Serambi Botani. Setelah melakukan wawancara dengan manajernya, siapa sangka aku diberikan sebuah cindera mata berupa produk-produk kecantikan Serambi Botani, yang memang pada hari itu pas ulang tahunnya.

Lain lagi ketika aku ikut wawancara Masril Koto, seorang pelopor bank petani yang berasal dari anak petani yang tidak menamatkan pendidikannya di sekolah dasar. Namun, kini ia memiliki beberapa perusahaan di Jakarta dan telah membantu mendirikan ratusan bank petani. Meski begitu, penampilannya sederhana dan bersahaja. Saat ditemui pun hanya menggunakan kaos dan celana jeans. Cara bicaranya sangat berbanding terbalik dengan riwayat pendidikan terakhirnya. Ia pintar, berwawasan luas, dan apa adanya. Sosok yang sangat inspiratif.

Sebulan telah berakhir dan jadual masuk kuliah semester lima pun dimulai. Disaat yang lain asik menikmati masa liburan semester, kami pun magang kecepetan. Tapi tidak ada yang sia-sia, banyak sekali ilmu dan informasi yang kami peroleh. Terima kasih, Tempo.

***


Aku berencana, Allah berkata lain

Semester lima dimulai. Semester ini hanya belajar tiga mata kuliah dan masuk pun hanya tiga kali seminggu. Sambil belajar, anak-anak mulai mencari informasi terkait magang, baik itu dari senior, dosen, teman ataupun internet. Aku pun sedikit santai mengingat sudah mendapatkan tempat magang, sudah magang satu bulan malah. Meski tidak sedikit dari mereka yang diam-diam tidak suka karena merasa aku colong start atau sebagainya. Meski sempat melewati fase-fase dilempari dan saling lempar baper diam-diam, aku sudah tenang.

Waktu terus bergulir, waktu magang pun semakin dekat, banyak dari teman-teman mulai mendapatkan tempat magang. Banyak juga yang masih panik dan resah menunggu panggilan tiba. Mendadak aku ikut panik dan mulai menjalin komunikasi dengan pihak Tempo.

Singkat cerita, satu bulan sebelum jadwal magang, Allah berkata lain. Aku diharuskan untuk mencari tempat magang lain (karena beberapa alasan). Dengan panik, aku dan Robert (bukan nama sebenarnya) mencari tempat lain. Alhamdulillah, karena informasi dari senior tercinta, kami menghubungi kantor SWA untuk mengajukan lamaran magang. Sehari setelah menghubungi, HRD SWA menghubungiku dan mengundang untuk interview langsung di kantor.

Satu minggu setelah interview, ternyata hanya satu orang yang diterima. Meski tidak enak dengan Robert, aku mengikuti interview kedua (interview lanjutan). Saat itu aku pikir, interview lanjutan hanya membicarakan terkait jadwal magang, fee, dsb. Namun, ternyata aku pun masih diberikan penugasan untuk menulis terkait UMKM. Aku menghabiskan hampir satu minggu untuk menyelesaikan tugas. Setelah selesai, aku pun masih harus menunggu kabar selanjutnya. Satu minggu berlalu dengan harap-harap cemas, bahkan sampai diam-diam menangis mengadu pada-Nya di sela-sela melantunkan ayat-ayat suci.

"Hasil tidak akan pernah mengkhianati prosesnya."

Sesungguhnya hasil memang tak akan pernah mengkhianati prosesnya. Setelah satu minggu, aku dikabari untuk interview (lagi) di kantor. Sampai di sana, alhamdulillah aku resmi diterima. Setelah tiga kali interview, empat malah dihitung dengan siang tadi, aku diterima magang dan mulai besok sudah mulai kerja.

Aku bisa berencana sesuatu, tapi Allah yang berhak menentukan. Mungkin rencana Allah memang tidak selalu mulus untuk kita lalui, tapi rencana-Nya lah yang terbaik. 

SE-MA-NGAT!

Komentar

Postingan Populer