Yakin, Sudah Siap Menikah?

Source: freepik.com



Menikah. Siapa sih yang tidak mau menikah? Siapa sih yang tidak ingin segera dipertemukan dengan kekasih halalnya? Siapa sih yang tidak mau hidup menua bersama dengan pujaan hati? Tidak hanya menua bersama, tapi hidup berkah bersama lalu dipertemukan kembali di surgaNya. Beuh, sedhap!

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas, kayaknya hampir semua orang menginginkan hal itu ya. Kalau ada yang nggak mau, ya sudah itu kembali kepada pola pikir, prinsip, dan keyakinan masing-masing. Duh, padahal menikah tuh enak lho! (sok tahu! Padahal menikah juga belum). Kata orang-orang sih enak, katanya.. Apa bener?

Dari sudut pandangku yang saat ini posisinya belum menikah, adakalanya aku bertanya-tanya, apakah menikah itu seindah foto-foto romantis yang bergelimpangan di timeline  instagram pengantin baru? Apakah menikah berarti berubah status dari haram ke halal? Apakah menikah pertanda ikatan yang harus disegerakan saat benih-benih cinta muncul di antara dua insan? Apakah menikah karena teman-teman sudah menikah? Apakah menikah karena usia sudah tidak lagi muda? Apakah menikah karena sudah ada tuntutan dari orang tua dan lingkungan sekitar?

Masih banyak pertanyaan yang kalau dijabarkan bisa jadi sangat panjang sepanjang jalan kenangan. Memang, menikah akan lebih menundukan pandangan, menghindari zina, yang dulu haram jadi halal bahkan bernilai ibadah. Yang dulunya pandang-pandangan aja jadi dosa, dengan menikah mau jungkir balik juga jatuhnya ibadah. Yup, ibadah paling lama. P-A-L-I-N-G  L-A-M-A.

Karena menikah adalah ibadah terpanjang, jadi menurutku harus dipersiapkan secara matang. Jadi tujuannya bukan hanya soal ‘ranjang’ dan ‘ranjang’. Melainkan banyak yang harus diperhitungkan dan dipertimbangkan. Bukan karena alasan sudah terlanjur suka sama suka lalu menikah. Bukan karena alasan teman-teman sudah menikah lalu ‘panas’ dan buru-buru menikah. Bukan karena ‘nyinyiran’ tetangga lalu minta menikah.

In my opinion, menikah tidak ‘sesepele’ itu. Banyak kasus yang menikah niatnya belum ‘lurus’, hanya mementingkan ‘enak’ lalu jadi anak (maaf). Terus kalau udah jadi anak, mau digimanain tuh? Nasibnya anak tidak berdosa mau digimanain? Kalau untuk urusan biaya pendidikan, insyaAllah akan Allah jamin. Tapi, bagaimana dengan pendidikan mental, moral, agama yang seharusnya didapat sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan? Apakah sudah siap?

Aku pernah baca suatu tulisan, terkadang, masih banyak orangtua yang terjebak dalam sifat ‘kekanakan’ saat dia sudah punya anak. Sedikit-sedikit marah, memukul, berteriak, ngomong kasar, cuek dan lainnya. Bahkan, pernah kulihat, seorang Ayah dan Ibu merokok di depan anak-anaknya. Iya, ibunya juga merokok..

Kalau sudah begitu yang dikorbankan siapa? Si anak. Masa-masa kanak-kanak memiliki andil besar dalam membentuk karakter dan perilakunya di kemudian hari. Karakter seperti apa yang terbentuk jika orangtuanya masih belum siap, baik secara mental, ilmu, maupun materiil?

Maka, ketika hendak menikah, pastikan kita sudah selesai dengan sifat ‘kanak-kanak’. Pastikan kita sudah siap fisik, mental, ilmu yang cukup, punya kesabaran yang luas, mampu menahan ego, tabungan yang cukup, dan persiapan lainnya.

Mengutip kajian Ustadz Salim A. Fillah, jika hendak menikah, cari tahu betul-betul tentang ‘si dia’, termasuk mengecek hubungan dia dengan empat hal ini.

Satu, cek hubungan dia dengan Allah. Kalau misalkan hubungan dia dengan penciptanya saja ogah-ogahan, gimana nasib hubungan kalian nantinya di kemudian hari?

Dua, lihat hubungan dia dengan ibu. Apakah hormat dan patuh sama ibu? Ataukah justru sering bertengkar dan cenderung melawan? Waduh, kalau sama ibu aja dia bisa kasar, apalagi sama kamu?

Tiga, lihat hubungan dia dengan teman sebayanya. Kalau berhutang dibalikin nggak? Apa pura-pura amnesia pas ditagih?

Yang terakhir, lihat hubungan dia dengan anak kecil. Sayang nggak sama anak kecil? Kalau kata Ust. Salim sih, doi merekomendasi perempuan dan laki-laki yang suka mengajar ngaji TPA. Ciee..ciee..


"Janganlah kamu menikah karena jatuh cinta atau iba, tapi menikahlah karena kamu merasa surga Allah lebih dekat jika bersamanya" - @asmanadia


Udah sih segitu aja opini dari sudut pandangku. No hard feeling ya. Meskipun ingin, tetap ada bisikan-bisikan kekhawatiran, seperti.. 

"Sudah siap belum ya aku berubah status jadi seorang istri?"

"Bisa nggak ya patuh secara penuh pada suami?"

"Siap nggak mendidik anak nantinya?"

"Siap nggak ya meninggalkan orangtua dan saudara untuk ‘mengabdi’ pada ‘kunci surga’ yang baru?"

Ya intinya sebelum menikah harus mempersiapkan segala sesuatunya secara matang dan maksimal. Semoga tulisan ini bisa jadi bahan renungan bersama, khususnya aku sebagai penulis. Ambil yang baik, buang yang buruk. Semoga bermanfaat.





Yasmin Shafiyyah
12 September 2018, 17:08

Komentar

Postingan Populer