Pamit
![]() |
| Sumber: faesalgraphy.deviantart.com |
Aku berdiam diri, merenung dan bertanya dalam hati. Apakah gerangan yang kurasa hingga sekelebat senyumnya tidak juga enyah dari pelupuk mata. Apakah yang terjadi pada diri hingga sekilas wajahnya enggan pergi.
Aku bergeming, terus bertanya-tanya pada cermin. Mengapa aku tidak berdaya saat orang asing mengambil alih duniaku dan seisinya? Mengapa aku begitu lemah karena tidak sanggup menghentikan bayang dirinya?
Aku membisu, tidak mampu berkata-kata untuk ungkapkan tanya. Mengapa dia begitu tega? Membiarkan pesonanya menjebak para wanita yang lugu dan tak berdaya. Mengapa dia begitu tega? Menancapkan senyum pamungkasnya jauh ke dalam lubuk jiwa. Mengapa dia begitu tega? Masih saja bertingkah seolah tidak ada apa-apa.
Aku tergugu, tersiksa dengan rasa yang tiba-tiba memenuhi relung dada. Membludak tanpa kendali di dalam sana. Apakah dia tidak merasa berdosa? Menjadikan salah satu ciptaan-Nya sengsara karena ulah konyolnya? Apakah dia tidak merasa? Betapa bodohnya.
Lambat laun hatiku mulai berbicara. Tidak, tidak. Maksudku, ia mulai terisak. Mungkin dengan begitu beban dan tanya yang membebani akan luruh secara perlahan. Melepaskan segala emosi dan menguraikannya pelan-pelan.
Aku tersenyum, samar. Baru kusadari satu hal, terlalu perasa memang kodrat perempuan. Tapi, berlebihan akan menjadi boomerang. Aku dan pikiranku, juga perasaanku, bermain dan berdebat sendiri. Memupuk dan menyimpulkan tali-tali harap, hingga kusut dan tidak terlihat ujungnya.
Dia tidak tega. Jahat pun juga tidak. Dia hanya tidak tahu bahwa aku dan perasaanku membawa namanya dalam diam. Setelah semakin terjebak jauh lebih dalam, kami menyalahkan. Kami, aku dan perasaanku, mohon maaf dan pamit.
Jika Tuhan beserta dunia dan seisinya merestui, aku akan kembali, dengan senyum dia yang masih menyertai. Jaga diri, dan lekas temukanlah aku di sini, kekasih.

Komentar
Posting Komentar